Gejala klinis Anemia Dan Diagnosisnya

Gejala klinis anemia bervariasi tergantung pada etiologi, derajat dan kecepatan timbulnya. Penyakit-penyakit lain seperti penyakit jantung, paru-paru akan mempengaruhi keparahan gejala-gejala. Anemia tersebut akan menampakkan gejala seperti terlihat terhadap kulit dan selaput lendir yaitu mukosa terlihat pucat, nafsu makan turun, lemah,  anoreksia, dispnea, tachycardia, oedema, gastrointestinal mengalami kelukaan, dan polypnea (bernafas cepat) terutama setelah kerja, peka terhadap dingin, pada pemeriksaan auskultasi terdengar bising jantung karena viskositas darah menurun dan turbulence meningkat, bila  sepertiga volume darah hilang maka hewan akan syok, terlihat ikterus (bila  ada hemolisa darah), hemoragi, hemoglobinuria, dan demam. Gejala kurang jelas bila  kejadiannya pelan-pelan sehingga hewan lama-kelamaan dapat beradaptasi.

Tipe Anemia di  bagi 2 yaitu 

  1. Anemia regeneratif

Diagnosa tipe Anemia regeneratif ini ke arah adanya perdarahan atau destruksi eritrosit, bila  cukup waktu untuk respon regeneratif (2-3 hari), Pemeriksaan sumsum tulang jarang dilakukan biasanya adanya erythropoietic hyperplasia, Respon regeneratif pada saat proses kesembuhan dari anemia non regeneratif dapat dilihat pada pemeriksaan hemogram secara berturut-turut.

  • Anemia non regeneratif

Diagnosa terhadap gangguan sumsum tulang, pemeriksaan sumsum tulang diwajibkan untuk menguatkan diagnosa dan klasifikasi anemianya, Pada perdarahan akut atau perakut atau kasus hemolisis pada hewan yang mengalami gangguan sumsum tulang akan terlihat tanda-tanda non regeneratif terlihat setelah 2-3 hari kemudian.

Evaluasi Lab

Pertama-tama akan diperoleh hasil pemeriksaan kadar hemoglobin yang rendah. Dalam menilai rendahnya kadar hemoglobin perlu diperhatikan keadaan hidrasi dari pasien. Dalam keadaan hidremia maka kadar Hb yang rendah bukan karena anemia akan tetapi karena hemodilusi (anemia spuria). Evaluasi laboratorium didasarkan pada Hb, jumlah retikulosit, Hematokrit (Hct), volume erythocyt rata-rata (MCV = Mean Corpuskular Volume), dan pemeriksaan preparat usap (hapusan) darah tepi.

Hemoglobin dan Hematokrit

Dalam darah terkandung hemoglobin yang berfungsi mengangkut oksigen. Untuk sebagian besar hewan tak bertulang belakang atau invertebrta yang berukuran kecil, maka oksigen akan langsung meresap ke dalam plasma darah karena protein pembawa oksigennya terlarut secara bebas. Hemoglobin adalah protein pengangkut oksigen paling efektif dan ada pada hewan-hewan bertulang belakang atau vertebrata termasuk kuda. Zat besi dalam bentuk Fe2+ dalam hemoglobin memberikan warna merah pada darah. Dalam keadaan normal 100 ml darah mengandung 15 gram hemoglobin yang mampu mengangkut 0,03 gram oksigen.

Hemoglobin (Hb) dan Hematokrit (Hct) berfungsi untuk estimasi masa eritrosit, tetapi interpretasi Hb dan Hct harus memperhitungkan status volume pasien. Segera setelah kehilangan darah akut, Hb akan normal normal karena mekanisme kompensasi tidak akan punya waktu untuk mengembalikan volume plasma menjadi normal. Pada kebuntingan Hb rendah walaupun massa eritrosit normal karena volume plasma yang bertambah akan mengencerkan Hb.

Jumlah retikulosit

Jumlah retikulosit mencerminkan kecepatan produksi eritrosit merupakan indikator bagi respon sumsum tulang terhadap anemia. Jumlah retikulosit umumnya  dilaporkan sebagai jumlah retikulosit untuk setiap 100 eritrosit. Indeks retikulosit (IR) mencerminkan keparahan anemia yang sesungguhnya serta merupakan ukuran kemampuan sumsum tulang memberikan respon IR yang lebih dari 2-3% menunjukkan respon yang memadai dan nilai yang kurang dari ini menunjukkan bahwa terdapat unsur hypoproliferatif pada anemia.

Volume Erythrocyt Rata-rata

Cara mengevaluasi eritrosit yaitu dengan Jumlah total eritrosit atau pocked Cell Volume (PCV), Mean Corpuscular Volume( MCV), kadar Hb,Mean Corpuskular Hemoglobin (MCH) dan Mean Corpuskular Hemoglobin Concentration (MCHC). Jumlah total eritrosit atau pocked Cell Volume (PCV) cara ini paling mudah dan tepat, dan diingat tingkat dehidrasinya. Mean Corpuscular Volume( MCV) merupakan ukuran rata-rata eritrosit dan digunakan dalam klasifikasi anemia.  Mean Corpuscular Volume( MCV) yang kecil berarti ukuran sel darah merahnya lebih kecil daripada ukuran normal. Umumnya  hal ini disebabkan karena defisiensi zat besi dalam tubuh serta kejadian pada penyakit kronis. Sedangkan nilai MCV umumnya akan meningkat pada keadaan kekurangan asam folat, defisiensi vitamin B12, dan defisiensi kobalt

PCV merupakan perbandingan antara volume eritrosit darah dan komponen darah yang lain. Volume eritrosit di dalam darah berbanding langsung terhadap jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin dalam sirkulasi darah. Nilai PCV merupakan petunjuk dari daya pengikat oksigen oleh darah dan bermanfaat bagi suatu diagnosis diantaranya untuk menetukan MCV dan MCHC.

Pemeriksaan preparat usap atau hapusan darah tepi

Pemeriksaan ini bersifat menentukan dalam penilaian pasien anemia. Morfologi eritrosit paling baik di nilai pada bagian hapusan di mana eritrosit yang satu tepat bersentuhan dengan eritrosit yang lain. Pemeriksaan penunjang lain seperti analisis urin, pemeriksaan feses dan pemeriksaan biokimia lain penting untuk menegakkan diagnosa dari anemia.

Pemeriksaan khusus

Pemeriksaan khusus untuk menegakkan diagnosa sebaiknya dilakukan sebelum pemberian transfusi darah.

Diagnosa

Anemia bukan merupakan diagnosa dari suatu penyakit. Anemia merupakan salah satu gejala dari penyakit. Oleh karena itu apabila pasien menderita anemia maka kita harus menentukan etiologi dari anemianya. Anemia dapat diklasifikasikan berdasarkan morfologi dan etiologi. Indeks retikulosit menentukan anemia tersebut akan dalam kalsifikasi yang mana, dan MCV serta Pemeriksaan preparat usap atau hapusan darah tepi dapat membantu lebih lanjut dalam penegakan diagnosis. Anemia dapat ditimbulkan oleh beberapa faktor seperti perdarahan gastrointestinal, defisiensi gizi, dan penyakit hati.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *